Tampilkan postingan dengan label metode riset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metode riset. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Desember 2010


BAB III
Pembahasan


Teory antrian diciptakan oleh A.K. Erlang seorang matematikawan berkebangsaan Denmark . teory ini diperkenalkan pada tahun 1913, yang dirancang untuk memperkirakan berapa banyak langganan menunggu dalam suatu baris antrian , kepanjangan garis tunggu , seberapa sibuk fasilitas pelayanan dan apa yang terjadi bila waktu pelayanan atau pola kedatangan berubah .

Tujuan System Antrian
System ini digunakan untuk membantu meminimumkan biaya total yang terdiri atas :
-       Biaya Langsung (biaya yang timbul karena menambah fasilitas layanan serta gaji tenaga kerja yang member pelayana)
-       Biaya tidak langsung (biaya yang timbul karena para pelanggan harus menunggu untuk dilayani)

Elemen pokok dalam system antrian :
1.      Tingkat kedatangan rata-rata pelanggan (lamda)
2.       Tingkat pelayanan rata-rata (miu)
3.        Jumlah fasilitas pelayanan

Disiplin Antrian merupakan pedoman keputusan yang digunakan untuk menyeleksi individu-individu yang memasuki antrian untuk dilayani terlebih dahulu . macam-macam system antrian :
-        First come first served (FCFS)
-        Shortest operating (service) – time (SOT)
-        Last come first served (LCFS)
-        Longest operating time (LOT)
-        Service in random order (SIRO)
-        Emergency first atau critical condition first

Struktur antrian
1.       Single channel single phase
Single channel artinya hanya ada satu jalur untuk memasuki system pelayanan atau fasilitas pelayanan sedangkan single phase artinya hanya ada satu station pelayanan atau pelayanan tunggal yang diberikan . contohnya ketika mengantri di ATM
2.       Single channel multi phase
Multi phase artinya ada dua atau lebih pelayanan yang diberikan . contohnya pelayanan di rumah sakit (bag. Pendaftaran – spesialisasi dokter – bag. apotek – bag. Administrasi)
3.       Multi channel single phase
Biasanya terjadi kapan saja, dua atau lebih faslitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal . contohnya teller pada bank
4.       Multi channel multi phase
System yang mempunyai beberapa fasilitas pada setian tahapan , sehingga lebih dari satu individu dapat dilayani pada suatu waktu .

Aplikasi model antrian
1.       Tingkat kegunaan (U)
 
2.       Jumlah individu rata-rata dalam system (L)
Artinya individu dari saat mengantri , dilayani , sampai saat setelah dilayani.

 
3.       Jumlah individu rata-rata dalam antrian (Lq)
Artinya individu yang terhitung saat sedang mengantri .

 
4.       Waktu rata-rata dalam system (W)

 
5.       Waktu rata-rata dalam antrian (Wq)
     
6.       Probabilitas
Untuk pelanggan ke ……                                      

 
Untuk adanya ……….. pelanggan

 


BAAK Universitas Gunadarma adalah biro yang menangani segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di Universitas Gunadarma dan administrasi akademik bagi seluruh mahasiswa Universitas Gunadarma. Bagian yang terdapat di BAAK antara lain :
  1. BAAK Fakultas (Ilmu Komputer, Ekonomi, Teknik Sipil & Perencanaan, Teknologi Industri, Psikologi, dan Sastra);
  2. Bagian Ujian Semester dan Bank Soal;
  3. Bagian Koordinasi Perkuliahan
    • Sub Bagian Jadwal Kuliah;
    • Sub Bagian Koordinasi Mata Kuliah dan Penasihat Akademik;
    • Sub Bagian Penghubung dan Pendamping Dosen.
  4. Bagian Monitoring Kuliah.
    • Sub Bagian Monitoring Kehadiran Dosen;
    • Sub Bagian Monitoring Kehadiran Mahasiswa.
Pelayanan yang diberikan oleh para staff baak kadang di cap jelek oleh para mahasiswa, namun setelah dilakukannya penelitian maka diperoleh analisis waktu pelayanan yang didapat dari setiap mahasiswa/i yang mengantri dari awal mereka datang, menunggu dalam antrian, dilayani dan keluar dari sistem menggunakan analisis Multi Chanel Single Phase adalah mahasiswa/i harus menunggu rata-rata 3.5 menit mengantri dalam antrian dan 5.7 menit waktu yang hatrus dikeluarkan oleh setiap mahasiswa/i untuk mendapat pelayanan. Secara keefisienan waktu waktu tesebut masih dianggap kurang maksimal. Meskipun dalam segi pelayanan belum maksimal, namun para staff dalam pemberian layanan sudah cukup baik, tidak sedikit staff yang memberi pelayanan dengan senyum, sapa dan santun.

Selasa, 23 November 2010

Metodologi Penelitian

Struktur metodologi penelitian
Sumber data
            Data yang diperoleh dalam penelitian adalah data yang bersumber dari jenis data primer dan sekunder.   

Obyek Penelitian
      Obyek yang akan dibicarakan dalam penulisan ilmiah ini adalah Loket BAAK Universitas Gunadarma Depok.

Metode Pengambilan Data
            Data yang diteliti adalah bersumber dari jenis data primer dan sekunder. Dalam penulisan ilmiah ini metode pengambilan data diambil dengan penyebaran  kuisioner  kepada para pengguna jasa BAAK dan mengambil informasi dari internet tentang BAAK Universitas Gunadarma Depok.

Variabel Penelitian
            Variabel yang dianalisis dari penulisan ilmiah ini adalah sistem pelayanan antrian dan kinerja pelayanan para staff loket BAAK Universitas Gunadarma.  Dengan perincian :
Variabel Terikat                      : Kinerja Pelayanan
Variabel Bebas                        : Sistem Pelayanan Antrian

Model Penelitian
            Alat analisis yang digunakan oleh penulis yaitu menggunakan metode antrian Multi Chanel Single Phase, karena masalah yang ingin penulis bahas dalam penulisan ilmiah ini sangat cocok dengan metode tersebut.

Pengaruh Sistem Pelayanan Antrian Terhadap Kinerja Staff Pada Loket Baak Universitas Gunadarma Depok

Bab I
Pendahuluan
I.I   Latar belakang
            Pada masa sekarang ini banyak sekali usaha – usaha yang bergerak dalam bidang perdagangan ataupun jasa. Namun dalam menjalankannya banyak usahawan yang tidak dapat mengelola masalah sistem pelayanan antrian kasir. Sistem pelayanan antrian kasir yang tidak dikelola secara benar akan mengalami konsekuensi yang sangat berpengaruh tidak baik bagi usaha perdagangan. Hal ini akan berakibat menurunnya tingkat kedatangan konsumen. ( R. Karina Noviana Putri, 2009 )
            Pada umumnya kita sering sekali merasakan begitu lamanya pelayanan yang akan kita terima dari perusahaan atau jawatan yang bergerak terutama dalam bidang jasa, seperti : pembayaran rekening telepon, pelayanan potong rambut, super market, reatauran siap saji serta pelayanan pada loket baak pada universitas Gunadarma. Memang menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan bagi siapapun juga. ( Asep Hendra, 2009 )
            Sama halnya seperti sistem pelayanan, kompensasi juga mempengaruhi kinerja karyawan dalam memberikan pelayanan. Kompensasi merupakan pemberian pembayaran finansial kepada tenaga kerja sebagai balas jasa yang diberikan perusahaan atas hasil kerja mereka. Kompensasi dibedakan menjadi dua yaitu kompensasi langsung dan kompensasi variabel. Kompensasi langsung berupa gaji pokok dan gaji lain yaitu gaji dan upah. Gaji adalah balas jasa yang diberikan secara periodik kepada karyawan dan tidak memperhatikan jumlah waktu kerja dan memiliki jaminan pasti. Upah merupakan balas jasa yang yang dibayarkan harian dengan berpedoman atas perjanjian yang disepakati pembayarannya.  Kompensasi variabel antara lain adalah bonus. Bonus adalah tambahan balas jasa yang diberikan kepada karyawan tertentu tang prestasinya diatas prestasi standar. ( Maya Yuratna Dewi, 2009 )
            Di jaman sekarang ini yang telah memasuki era globalisasi jelas setiap orang memerlukan pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhannya, dalam hal ini yaitu kompensasi. Oleh karena itu pada penulisan ilmiah ini penulis ingin membahas faktor lain yang mempengaruhi kenerja karyawan selain  kompensasi yaitu sistem pelayanan itu sendiri, yang dalam hal ini mengambil contoh kasus sistem pelayanan antrian pada loket BAAK Universitas Gunadarma Depok.

I.II  Rumusan dan Batasan Masalah
            Atas dasar latar belakang masalah yang telah dijelaskan sebelumnya di atas, penulis hanya membatasi masalah pada :
1.      Pelayanan antrian di loket BAAK Universitas Gunadarma Depok, menggunakan metode antrian Multi Chanel Single Phase, yang menurut penulis belum memuaskan dalam segi waktu pelayanan.
2.      Penulis juga ingin mengetahui sampai sejauh mana pelayanan yang diberikan oleh pihak loket.

I.III Tujuan Penelitian
            Adapun tujuan penulisan ilmiah ini adalah :
1.      Ingin mengetahui  apakah waktu pelayanan yang diberikan oleh petugas loket sudah maksimal.
2.      Ingin mengetahui seberapa lama seorang pelanggan dapat dilayani.

I.IV Manfaat Penelitian
            Dari penelitian yang dilakukan oleh penulis, manfaat yang akan diperoleh adalah agar masalah ini tidak membosankan lagi bagi pengguna jasa dalam mengantri. Maka waktu harus seefisien mungkin agar kepuasan pengguna jasa tercapai.












Minggu, 31 Oktober 2010

Review Jurnal

Tema
Kinerja Pelayanan

Judul
Sistem Pelayanan Antrian Kasir di Giant Hypermarket Margo City Depok

Pengarang
R. Karina Noviana Putri

Tahun
2009

Latar Belakang dan Masalah
Pada masa sekarang ini banyak sekali usaha-usaha yang bergerak dalam bidang perdagangan. Namun dalam menjalankannya bnayak usahawan yang tidak dapat mengelola sistem pelayanan antrian kasir. Sistem pelayanan antrian kasir yang tidak dikelola secara benar akan mengalami konsekuensi yang sangat berpengaruh tidak baik bagi usaha perdagangan. Hal ini akan berakibat menurunnya tingkat kedatangan konsumen, oleh karena itu sistem pelayanan antrian kasir sangat berperan dalam roda usaha perdagangan.
 
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sistem pelayanan antrian di Giant Hypermarket cabang Depok, dalam berusaha agar dapat diperbaiki atau meningkatkan sistem pelayanan antrian yang sangat berpengaruh terhadap tingkat kedatangan konsumen.

Metodologi
variabel yang digunakan adalah :
  • variabel dependent : sistem pelayanan
  • variabel independent : jumlah kedatangan pembeli dan waktu rata-rata pelayanan
Penelitian ini menggunakan analisis Multi Chanel Single Phase. Multi Chanel Single Phase adalah metode yang digunakan untuk dua atau lebih fasilitas pelayanan yang dialiri antrian tunggal. Penelitian dilakukan dengan mengadakan peninjauan atau pengamatan langsung terhadap obyek penelitian untuk melihat bagaimana pengelolaan sistem pelayanan antrian Giant Hypermarket cabang Depok.
Penghitungan matematis :
jumlah pelanggan dalam sistem antrian
waktu rata-rata pelayanan


Review Jurnal

Tema
Kinerja Pelayanan

Judul
Analisis Lamanya Pelayanan Pembayaran Listrik di PT.PLN ( Persero ) cabang Cimanggis

Pengarang
Asep Hendra

Tahun
2009

Latar Belakang dan Masalah

Pada umumnya kita sering sekali merasakan begitu lamanya pelayanan yang akan kita terima dari perusahaan atau jawatan yang bergerak terutama  dalam bidang jasa, seperti : pembayaran rekening listrik, rekening telepon, pelayanan potong rambut, supermarket, restoran siap saji dan lain-lain. Memang menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan bagi siapa pun juga. Berdasarkan uraian tersebut maka penulisan ini akan  membahas fenomena-fenomena yang terjadi dalam sistem pelayanan pembayaran rekeninglistrik disalah satu fasilitas pelayanan jasa umum di masyarakat.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
  • ingin mengetahui apakah waktu pelayanan yang diberikan oleh petugas loket sudah maksimal
  • ingin mengetahui seberapa lama seorang pelanggan dapat dilayani

Metodologi
Variabel yang diamati adalah :
  • variabel dependent : sistem pelayanan
  • variabel independent : petugas loket dan jumlah pelanggan
Pengumpulan data variabel adalah data primer dari perusahaan. Alat analisis yang digunakan adalah menggunakan Multi Chanel Single Phase. Alat analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa lama seseorang pelanggan menunggu untuk dapat dilayani oleh petugas loket, sehingga dapat memberi gambaran  sampai sejauh mana waktu yang akan dibutuhkan oleh seorang pelanggan untuk dapat dipanggil dan keluar dari sistem tersebut.
waktu pelayana
 
Hasil dan Kesimpulan
Analisis waktu pelayanan yang didapat dari setiap pelanggan yang mengantri dari awal mereka datang, menunggu dalam antrian, dilayani dan keluar dari sistem menggunakan analisis Multi Chanel Single Phase adalah pelanggan harus menunggu rata-rata 3.5 menit mengantri dalam antrian dan 5.7 menit waktu yang hatrus dikeluarkan oleh setiap pelanggan untuk mendapat pelayanan. Apabila loket ini ditambah menjadi 5, waktunya cukup maksimal dam tidak terlalu lama yaitu 2.4 menit waktu yang dibutuhkan dari awal sampai selesai dilayani.

Meskipun dalam segi pelayanan belum maksimal, namun petugas loket  PT.PLN dalam pemberian layanan sudah cukup baik, pelanggan dilayani dengan senyu, sapa dan santun.

Saran dan Usulan Akhir

Dari hasil penelitian yang diperoleh maka disarankan agar PT.PLN dapat menambah lagi jumlah loket menjadi 5 loket untuk melayani pelanggan, sehingga dapat mengoptimalkan waktu dan menambah rasa nyaman pelanggan.

Review Jurnal

Tema
Kinerja Karyawan
Judul
Kinerja PelayananPengaruh Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan Dalam Melayani Nasabah Pada Bank Mandiri,Tbk

Pengarang
Maya Yuratna Dewi

Tahun :  2009

Latar Belakang dan Masalah

Kompensasi merupakan pemberian pembayaran financial kepada tenaga kerja sebagai balas jasa yang diberikan perusahaan atas hasil kerja mereka. Kompensasi dibedakan menjadi dua, yaitu kompensasi langsung dan kompensasi variabel. Kompensasi langsung berupa gaji pokok dan gaji lain atau upah. Gaji adalah balas jasa yang diberikan secara periodik kepada karyawan dan tidak memperhatikan jumlah waktu kerja dan memiliki jaminan pasti. Upah merupakan balas jasa yang dibayarkan harian dengan berpedoman atas perjanjian yang disepakati pembayarannya. Gaji variabel antara lain adalah bonus. Bonus adalah tambahan balas jasa yang diberikan kepada karyawan tertentu yang prestasinya diatas prestasi standar.

Bank Mandiri yang memberikan pelayanan kepada nasabah dan juga dilihat dari perkembangannya, instansi ini mempunyai masa depan yang cukup cerah karena pada jaman globalisasi seperti saat ini jasa perbankan sangat berperan penting dalam perekonomian suatu negara dari tahun ke tahun. Instansi ini juga telah menggunakan faktor-faktor pendukung pelaksanaan dengan memanfaatkan Sumber Daya Manusia dan mungkin dalam pelayanannya kepada nasabah masih ditemui adanya kelemahan-kelemahan yang dapat mengurangi kepercayaan nasabah. Oleh karena itu  perlu diketahui penyebab masalah itu sehingga dapat dicari jalan keluarnya yang mungkin lebih baik terutama masalah kompensasi.

Tujuan

Bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompensasi terhadap kinerja karyawan dalam melayani nasabah Bank Mandiri.
Metodologi

Penulisan ini menggunakan data primer yaitu data yang diambil langsung dari obyek peneltian melalui observasi metode angket ( kuisioner ) yang dilakukan selama lima hari dan beberapa data lain yang diperlukan untuk metode penelitian ini.
Variabel yang digunakan berkaitan dengan perhitungan kompensasi dan kinerja dari karyawan yang menjadi responden dalam penelitian ini. penelitian ini menggunakan metode Chi Square dan Skala Likert.
Dengan hipotesis :
Ho = kompensasi tidak mempengaruhi kinerja karyawan dalam melayani nasabah
Ha = kompensasi mempengaruhi kinerja karyawan dalam melayani nasabah
Model penelitian matematis:
Chi Square

Hasil dan Kesimpulan

Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa pengaruh kompensasi terhadao kinerja kerja responden pada Bank Mandiri dengan menggunakan metode Chi Square diperoleh X2 hitung 53.003 dan X2 tabel 21.026. Ini diartikan bahwa Chi Square hitung > Chi Square tabe. Maka hipotesis yang diterima adalah Ha dengan penolakan atas hipotesis Ho yang berarti kompensasi yang diberikan perusahaan tersebut mempengaruhi kinerja karyawan dalam melaksanakan tugasnya.

Dengan menggunakan skala likert diperoleh jumlah skor untuk seluruh responden adalah maksimal sebesar 2500 dan minimal sebesar 500, median sebesar 1500, kuartil 1 sebesar 1000 dan kuartil 3 sebesar 2000. Hasil survei dari data linier yang telah diolah dengan sampel sebanyak 50 orang adalah sebesar 1563, nilai ini berada diantara median dan kuartil 3 yang berarti kompensasi yang diberikan perusahaan  mempengaruhi kinerja karyawan dalam melayani nasabahnya.

Saran dan Usulan Lanjutan

Dari hasil penelitian yang diperoleh maka disarankan agar Bank Mandiri selain menjaga kestabilan laju perusahaan juga harus memperhatikan Sumber Daya Manusia dalam perusahaan tersebut terutama dalam hal kompensasi. Kompensasi yang diberikan harus sesuai dengan kinerja yang telah merekan hasilkan untuk perusahaan dan usulan tambahan agar perusahaan dapat menjalin hubungan yang baik antara Sumber Daya Manusia yang ada di dalamnya sehingga terwujud suasana kerja yang harmonis.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Review Jurnal

Analisis Pengaruh Psikologi Seksual Inisiasi dan Perilaku Seksual BerisikoTinggi Dalam Remaja Awal

Tema   : Keluarga

Latar Belakang
Data jurnal ilmiah yang berjudul “Analisis Pengaruh Psikologi Seksual Inisiasi dan Perilaku Seksual Berisiko Tinggi Dalam Remaja Awal” diambil melalui self-report survey yang dilakukan pada tahun 2001 dan 2003 dengan objeknya yaitu kelompok kelas enam sekolah dasar (149 kelas dari 17 smp dan sma, populasi keseluruhan berjumlah 1175) di sebuah kota kecil yang terletak di bagian northeast, US.

Penelitian baru-baru ini terkait dengan remaja Amerika menemukan bahwa remaja yang melakukan seks di usia dini terkorelasi dengan perilaku seksual yang lebih berisiko seperti misalnya, meningkatnya partner seks dan menurunnya penggunaan kontrasepsi yang mengakibatkan meningkatnya resiko kehamilan tak terencana dan menyebarnya penyakit seks menular. lebih lanjut, dengan menyediakan petunjuk dan perhatian untuk mereka yang aktif di usia muda bisa menurunkan efek negatif dari perilaku seksual usia dini.

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk agar orang tua sebagai pendidik utama dalam keluarga seharusnya bisa menentukan pola pengasuhan yang tepat dalam menyikapi usia rentan anak-anaknya (yaitu saat usia anak-anak 11 tahun sampai remaja) sehingga sang anak dapat menentukan cara bersikap dalam menghadapi suatu kondisi sosial di masyarakat dan dapat menganalisis pergaulan mana yang baik dan buruk untuk kehidupan remaja mereka.
Metode
Hal yang pertama diuji adalah faktor apa saja yang menjadi masalah internal dan eksternal pada anak kelas enam sekolah dasar, rasio perubahan pada faktor-faktor ini selama menjalani sekolah dasar/sekolah menengah pertama, dan perkiraan perilaku seksual usia dini dalam dua tahun kemudian; saat sebagian besar anak-anak tersebut berada di kelas delapan atau setara dengan kelas tiga sekolah menengah pertama di indonesia.

Peneliti kemudian menilai tiga hal tersebut (faktor-faktor  masalah internal atau masalah eksternal di kelas enam sekolah dasar, dan rasio perubahan selama mereka masih di sekolah dasar, diperkirakan terikat dengan perilaku seksual yang berisiko tinggi selama dua tahun kemudian) agar dapat menganalisis hasil akhirnya.
Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian ini adalah murid-murid tersebut terbagi menjadi dua kategori: mereka yang sudah aktif secara seksual di tahun ketiga (n=235 (235%)) dan mereka yang tidak aktif secara seksual di tahun ketiga (n=692 (74,6%)).

Kemunduran hirarki yang logistik dengan penyebab utamanya yaitu perilaku seks pada usia dini (murid-murid yang tidak aktif secara seksual saat kelas enam sekolah dasar, tetapi dilaporkan menjadi aktif secara seksual di tahun ketiga saat sekolah, 1/0) sebagai variabel dependent. Jenis kelamin (laki-laki (1)/perempuan (0), ras (dengan variabel yang dibuat untuk afrika-amerika (1/0) dan hispanik (1/0)), SES yang rendah dan sensasi yang dicari (sensation seeking) termasuk sebagai kontrol.

Penelitian ini menilai efek yang tidak biasa dari beberapa bentuk tentang faktor internal dan eksternal psikopatologi dalam aktivitas seksual dan seks bebas di usia sekolah menengah pertama. Dengan menggunakan tiga tahun desain longitudinal yang memakai tiga macam pengukuran, peneliti memasukkan psikopatologi dari anak-anak kelas enam sekolah dasar sebagai prediktor di perilaku seks usia dini dan perilaku seks yang beresiko tinggi.

Dalam penelitian ini, laki-laki dua kali lebih banyak daripada perempuan dalam mencoba intercourse dan tiga kali lebih banyak beresiko melakukan perilaku seksual daripada perempuan dengan perbandingan umur yang sama. Hasil ini diperkirakan karena laki-laki lebih sering membicarakan perilaku tersebut dibandingkan perempuan.

Peneliti juga menemukan koresponden dengan status ekonomi-sosial yang rendah (termasuk di dalamnya struktur keluarga, pendidikan dari orang tua, dan perwakilan ukuran untuk status ekonomi) mempunyai risiko meningkatnya melakukan intercourse lebih awal dibandingkan teman bermainnnya. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang memperlihatkan bahwa pemuda yang orang tuanya adalah single parents, pendapatan rendah atau pengasuhan yang kurang bagus melakukan seks lebih dulu dibandingkan teman bermainnya. Beberapa telah dihipotesiskan bahwa kemiskinan (dengan single parents dan kurangnya pengetahuan tentang pengasuhan) meningkatkan risiko berperilaku seks (karena terbatasnya dan kurangnya kualitas dalam bersosialisasi dan tenaga pengajar di lingkungan rumah dan masalah ekonomi yang menyebabkan kurangnya pengawasan dari orang tua). Walaupun status sosial-ekonomi dihubungkan dengan meningkatnya resiko perilaku seks usia dini, keterkaitan ini menurun secara signifikan saat psikopatologi megubah variabel sepanjang masa yang dimasukkan ke dalam analisis, ini semua cenderung karena status sosial-ekonomi juga diasosiasikan dengan peningkatan yang luar biasa di faktor eksternal dan sedikit penurunan di masalah internal.

Kesimpulan Lanjutan
Kesimpulan dari artikel ilmiah ini adalah orang tua sebagi pendidik utama dalam keluarga seharusnya bisa menentukan pola pengasuhan yang tepat dalam menyikapi usia rentan anak-anaknya (yaitu saat usia anak-anak 11 tahun sampai remaja) sehingga sang anak dapat menentukan cara bersikap dalam menghadapi suatu kondisi sosial di masyarakat dan dapat menganalisis pergaulan mana yang baik dan buruk untuk kehidupan remaja mereka. Tidak hanya berperan sebagai pendidik tetapi juga bisa menempatkan posisi sebagai teman saat anak-anaknya membutuhkan teman bercerita sehingga sang anak tidak canggung dalam bersikap di depan orang tua mereka dan merasa nyaman juga terbuka. Dengan ini orang tua dapat mengawasi perilaku anak tanpa harus selalu mengikuti mereka kemanapun. Rasa kepercayaan orang tua terhadap anak-anak mereka diperlukan pada tahapan ini.

Untuk kasus anak-anak yang berasal dari keluarga miskin (status sosial-ekonomi yang rendah) seharusnya ada bantuan yang konkret dari masyarakat seperti tetangga atau sekolah atau bahkan pemerintah dalam bentuk memberikan pengetahuan kepada kepala keluarga tersebut tentang pentingnya pendidikan seks di usia dini dan cara-cara penyampaian ke anak-anak mereka kemudian juga pengetahuan tentang betapa pentingnya pengawasan orang tua terhadap pergaulan anak-anak mereka, lalu pentingnya suatu pendidikan formal untuk perkembangan anak (tentu saja dengan bantuan pendidikan gratis bila keluarga tersebut disinyalir tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkan  anak mereka), adanya bimbingan untuk anak-anak yang kurang mampu ini sehingga mereka tidak masuk dalam pergaulan bebas dan tidak melakukan perilaku seksual di usia dini.